Sejarah
1
Sejarah dan Tarombo Pasaribu yang diawali dari Ompung Siraja Batak, Toga Datu (Tatea Bulan), Saribu Raja atau Raja Pasaribu I, Raja Borbor atau Raja Pasaribu II, Hobal Baluton/Raja Hatorusan II disebut juga Datu Balasahunu atau Raja Pasaribu III, Tuan Raja Doli gelar Datu Taladibabana atau Raja Pasaribu IV, Saribu Raja II gelar Rimbang Soaloon atau Raja Pasaribu V, Datu Pompang Balasaribu atau Raja Pasaribu VI, Datu Rimbang Saudara atau Datu Marhandang Dalu atau Raja Pasaribu VII, serta Saribu Raja III atau Raja Pasaribu VIII. Saribu Raja III dan anak-anaknya: Raja Habeahan, Raja Bondar, dan Raja Gorat.
2
Ompu Saribu Raja (Raja Pasaribu I) adalah anak kedua dari Guru Tatea Bulan, abangnya adalah Raja Uti, dan adiknya Limbong Mulana, Sagala Raja dan Silau Raja. Saribu Raja memiliki istri bernama Nai Mangiringlaut dan satu orang anak bernama Raja Borbor.
3
Ompu Saribu Raja lahir di Sianjur Mulamula (sekarang Huta Sagala). Kemudian membuka Huta Parik Sabungan di lereng Gunung Pusuk Buhit. Ompu Saribu Raja kemudian menggendong abangnya Raja Uti dari Sianjurmula-mula ke Parik Sabungan dan ditempatkan di sebuah liang di Batu Sawan. Ompu Saribu Raja dan Parsonduk Bolon (istrinya) Nai Mangiringlaut bertempat tinggal dan kemudian melahirkan anaknya Raja Borbor di Parik Sabungan.
4
Saribu Raja menerima amanah, ilmu kesaktian dan pusaka dari Guru Tatea Bulan dan menyimpan barang pusaka yang diterimanya di Batu Hobon.
5
Saribu Raja melaksanakan amanah dan berangkat dari Parik Sabungan menyusul abangnya Raja Uti di Barus. Dalam perjalanannya, Saribu Raja yang suka berpetualang dan berpindah tempat, membuka huta antara lain yang sekarang dikenal sebagai Huta Janji dan Huta Sabulan kemudian ke Pakkat dan selanjutnya ke Barus. Selama dalam perjalanan ini Saribu Raja melaksanakan ritual dan menguji kesaktian serta melakukan pengobatan.
6
Setelah Raja Borbor dewasa ia berangkat menuju Barus dan kemudian menjadi Raja Barus menggantikan Bapatuanya Raja Uti.
7
Raja Borbor memperanakkan Hobal Balutan atau Raja Hatorusan yang kemudian melanjutkan kerajaan di Barus. Hobal Balutan memperanakkan Tuan Raja Doli gelar Datu Tala Dibabana yang membuka huta sekarang dinamakan Sibisa. Tuan Raja Doli memperanakkan Saribu Raja II gelar Rimbang Soaloon yang memperanakkan Datu Pompang Balasaribu. Datu Pompang Balasaribu memperanakkan Datu Rimbang Saudara gelar Datu Dalu yang membuka huta Sipinggan. Datu Dalu kemudian memperanakkan Saribu Raja III atau Raja Pasaribu VIII.
8
Saribu Raja III atau Raja Pasaribu VIII memperistri boru Lumbantoruan Hariara sian Onan Ria Sipultak dan memperanakkan Raja Habeahan, Raja Bondar dan Raja Gorat. Raja Habeahan memperistri boru Lumbantoruan dan memperanakkan Sunggu Raja, Ampapaga Nalomak/br. Simatupang/br. Tamba, dan Tungkup Nahulae/br. Sitorus. Raja Bondar memperistri boru Simanjuntak (Sitombuk) dan memperanakkan Pangulu Raja, Raja Pultak, dan Raja Gordang. Raja Gorat (Op. Babiat) memperistri boru Lumbantoruan/br. Lumbantoruan, memperanakkan Tuan Marhohas/br. Sihombing Lumbantoruan/br. Situmorang, Parsintaan (Raja Ibana) memperistri boru Hutasoit, Ompu Habinsaran (Ompu Bagot) memperistri boru Lumbantoruan.
9
Dalam rangka menghitung sundut atau generasi pomparan Saribu Raja III dimulai dari Saribu Raja III atau Raja Pasaribu VIII sebagai generasi pertama, sehingga Raja Habeahan, Raja Bondar, dan Raja Gorat menjadi sundut atau generasi kedua.
10
Tarombo marompuompu Raja Habeahan, Raja Bondar dan Raja Gorat dituangkan dalam Buku Besar Tarombo.
Kesukaan Raja Sariburaja dan keturunannya (pomparannya) adalah mengembara, dimulai dari Sianjur Mulamula dengan membuka perkampungan dan menguasai berbagai wilayah di Desa Naualu dengan cara damai untuk mencari sumber kehidupan yang lebih baik. Di antara perkampungan yang dibuka, adalah Parik Sabungan di kaki Gunung Pusuk Buhit, Janji Martahan, Sabulan, Bakkara, Desa Habeahan di Lintong Nihuta dan Lobutala di Paranginan, Sipultak, Dolok Sanggul, Balige, Haunatas, Sibisa, Borbor, Aek Uncim, Batangtoru, dan Sigolang di Tapanuli Selatan, Garoga, Silantom, Siborong-borong, dan Silindung, Barus, Sibolga, Desa Habeahan dan Desa Singkam di Limbong, Hariara Pintu, dan sebagainya.
Di setiap perkampungan (luat) yang dibuka, Raja Pasaribu mempunyai banyak keturunan anak laki-laki dan anak perempuan sehingga banyak marga yang menjadi hula-hula dan yang menjadi Pamoruonna. Adapun marga yang memposisikan Raja Pasaribu sebagai Hula-hula, antara lain: Nairasaon, Naipospos, Raja Oloan (termasuk Raja Sisingamangaraja I), Sibagot ni Pohan, Siopat Pusoran. Pada dasarnya, Raja Pasaribu memiliki sifat sangat menyayangi borunya, terlihat dari banyaknya perkampungan dan lahan pertanian yang diwariskan kepada anak perempuannya.
Bahwa Raja Pasaribu memiliki ahlak mulia dan karakter unggul yang didasarkan pada 5 (lima) filosofi dasar/ideologi yang menjadi Nasihat (poda manang tona) kepada seluruh keturunannya, yaitu MarTuhan, MarAdat, MarPatik, MarUhum, dan MarRaja, sebagai pedoman atau pegangan hidup dari suatu generasi Pasaribu ke generasi berikutnya, sebagaimana kata umpasa: “Ompunta na parjolo martungkothon sialagundi, pinungka ni parjolo ihuthonon ni na parpudi”.